Buku The Great Shifting yang merupakan salah satu bagian dari Series On Disruption dari Rhenald Kasali justru adalah buku pertama yang saya baca dari seri tersebut dan menuntun saya untuk menjelajahi keseluruhan seri disrupsi dari beliau. Buku ini saya konsumsi hanya selang beberapa hari setelah diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama bulan Juli 2018 ini. Alhasil, buku setebal 523 halaman ini saya tuntaskan dalam waktu kurang dari satu minggu. Artinya, di samping traffic pekerjaan saya yang memang sedang masa tenang karena bertepatan dengan jadwal burned out prevention dari kantor, buku ini juga terlalu asyik untuk dibaca dan memberikan pandangan baru yang sungguh realistis dan mutakhir.

Saya tidak bermaksud untuk membuat resensi maupun review terhadap buku ini. Saya hanya ingin sekedar berbagi pandangan dan impresi saya sekaligus refleksi pembacaan saya. Yang jelas, sebagai seorang entrepreneur, konsultan dan kapten tim, buku ini tidak bisa dilewatkan sama sekali. Meminjam istilah Rhenald, saat ini kita sedang mengalami era disrupsi sehingga harus bisa beradaptasi dengan melakukan shifting. Sementara untuk mempersiapkan dan melakukan shifting itu sendiri kita mesti memahami betul apa yang dimaksud dengan disrupsi tersebut.

Tepat satu tahun yang lalu, saya mendampingi salah satu klien dalam mengelola komunikasi digital khususnya pada media sosial. Saat itu, saya memberi penekanan bahwa dalam menyusun strategi komunikasi digital, media sosial tidak bisa lagi dipandang sebagai sebuah kanal atau media “baru”, melainkan sebuah entitas komunikasi baru. Namun memang, klien saya tersebut agaknya cukup terbata-bata meraba dan mengartikulasikan makna dari “media sosial sebagai entitas komunikasi baru” menjadi strategi yang sistematis dan actionable. Hal ini jauh berbeda dengan pengalaman saya mendampingi klien lainnya dengan topik yang sama pada tahun 2015 – artinya hampir tiga tahun lalu. Klien tersebut mampu menginternalisasi dan mengembangkan strategi komunikasi pada media sosial bahkan sampai memboyong award relasi publik selama tiga tahun berturut-turut. Yang membedakan keduanya adalah mindset dan cara pandang terhadap kondisi hari ini. Hal ini sejalan dengan penjelasan dalam buku The Great Shifting ini sekaligus menjawab pertanyaan saya tentang apa yang terjadi terhadap dua klien saya tersebut.

Dalam menjelaskan tentang disrupsi dan shifting ini, pada bagian awal Rhenald berfokus pada penjelasan pergeseran mindset dari product-based ke platform yang menyebabkan terjadinya kebingungan yang bersifat masif dan bahkan hingga membingungkan penyusunan regulasi. Padahal, ketika mampu memahami bahwa era disrupsi ini telah mengubah makna, konsep dan perilaku secara besar-besaran, tentu kebingungan tersebut dapat direduksi. Misalnya pergeseran dari pola konsumsi masyarakat dari makanan ringan dan belanja pakaian yang berubah menjadi menabung untuk aktivitas travelling adalah satu dari sedikit contohnya. Kegagapan memahami disrupsi juga membuat kita salah kaprah dengan menyimpulkan terjadinya penurunan daya beli ketika ditutupnya berbagai ritel dan pusat perbelanjaan (fisik). Begitu juga dengan kelatahan kita dalam menggunakan berbagai platform media sosial yang beragam fitur dengan berbagai gawai canggih yang mengikutinya, terutama para pelaku bisnis. Bagi bisnis yang masih berpegang teguh pada konsep 4P (product, place, price and promotion), tidak sedikit yang memperlakukan media sosial sebagai salah satu kanal tempat beriklan atau promosi. Juga dalam memperlakukan online-shop yang masih sekedar berpindahnya toko fisik menjadi toko virtual.

Relevansi menjadi kata kunci sekaligus motor daya tahan dalam menghadapi era disrupsi dan shifting ini. Meskipun kata “relevan” ini bukanlah hal baru dalam bisnis dan brand, karna bertahun-tahun sebelumnya David Aaker – salah satu tokoh brand – telah mengingatkan kita bahwa relevansi adalah cara jitu dalam memenangkan bisnis dan relevansi adalah cara jitu dalam membuat kompetitor tidak relevan di mata konsumen. Sementara ini, mengenai relevansi, saya menangkap beberapa hal, di antaranya:

  1. Untuk menjadi relevan ada bisnis yang harus menyesuaikan pola komunikasi (brand dan pemasarannya),
  2. Untuk menjadi relevan ada bisnis yang mengubah strateginya,
  3. Untuk menjadi relevan ada bisnis yang butuh mengubah secara keseluruhan DNA dan model bisnisnya.

Kira-kira begitu pembacaan saya terhadap The Great Shifting ini. Saya tidak sabar untuk menyimak dan memamah seri-seri lainnya; secepatnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: