“Halo, senang bisa mengudara di podcast receh, tempat ngoceh seputar brand. Ngoceh Brand.” Begitu satu baris kalimat paling lancar yang saya sampaikan di awal 2 episode pertama Ngoceh Brand. Mengoceh sepertinya memang satu-satunya cara yang lebih saya kuasai dibanding medium bertutur lainnya. Sebelum bermigrasi ke medium audio, beberapa lama Ngoceh Brand lumayan setia hadir setiap Minggu malam dalam format Instagram story dan disatukan dalam satu sorotan dengan judul yang sama. Belakangan saya cukup penasaran untuk mengeksplor format berbeda. Setelah menemukan dan asik dengan tutur berbagai stasiun podcast, saya menjatuh pilihan pada medium ini.

Membahas medium bertutur dan medium yang diminati untuk memperkaya pengetahuan, beberapa waktu lalu melalui platform Twitter saya mencoba polling sederhana. Dari 855 responden, sebanyak 38% lebih cenderung menikmati konten berbasis video, 23% lebih suka dengan konten berbasis teks, 20% memilih konten berbasis gambar dan 19% menyukai konten berbasis audio. Perbedaan pilihan dengan beda yang tidak terlalu timpang sepertinya. Adalah hal yang wajar menurut saya ketika konten berbasis video lebih diminati, karena kecenderungan konten ini menghadirkan experience yang lebih kaya. Indera penglihatan dan pendengaran mendapat ransangan yang lebih seimbang. Diikuti oleh minat pada konten berbasis teks tulisan tentu hal ini menunjukkan minat baca yang cukup tinggi serta mengingat ketersediaan informasi dalam bentuk tulisan lebih mudah diakses terutama di jaman digital sekarang ini. Begitu pula halnya dengan konten berbasis gambar lebih banyak hadir karena alasan yang sama.

Tetapi satu hal yang menarik adalah konten berbasis audio atau pada konteks komunikasi juga dikenal dengan istilah Voice Experience (VX). Secara kultural, budaya komunikasi masyarakat Indonesia sejak dulu lebih banyak didistibusikan dalam bentuk oral text yaitu budaya tutur yang diwariskan secara turun temurun. Banyak sejarah, mitos dan dongeng diterima oleh satu generasi melalui kebiasaan demikian. Melihat hal ini, seharusnya konten berbasis audio bukanlah suatu hal asing dan baru. Jika melihat perkembangan dunia content creation hari ini, di Indonesia sudah hadir berbagai kanal podcast yang bisa dinikmati lewat berbagai platform dan bertutur tentang beragam topik. Podcast hanyalah satu dari sekian banyak bentuk VX yang bisa dinikmati.

Voice is the new touch, demikian Branding Magazine menuliskan dalam salah satu artikelnya yang memaparkan bagaimana suara menjadi salah satu touch point brand yang layak dipertimbangkan. Kehadiran brand melalui suara memberikan pengalaman berbeda dan meyakinkan pendengar/audiens brand itu sendiri. Faktornya bisa beragam, seperti yang dilakukan oleh salah satu aplikasi peta digital, Waze misalnya. Bertepatan dengan penyelenggaraan Asian Games 2018, Waze menawarkan penggunanya pengalaman suara seorang selebriti papan atas, Dian Sastrowardoyo, sebagai audio penunjuk arah lengkap dengan dialog ikoniknya di film Ada Apa Dengan Cinta. Dalam hal ini, persona pemilik suara menjadi daya pikat yang tidak sedikit. Demikian pula halnya ketika pembeda yang paling distinctive antara Siri sebagai produk keluaran Apple dengan Alexa milik Amazon maupun Google Assistent. Pengalaman suara ini membangun asosiasi berbeda dari masing-masing provider tersebut.

Bagaimana dengan Podcast? Saat ini medium podcast masih cenderung digunakan dalam memperkuat personality branding pemilik stasiun. Di samping memperkuat availabilitas pemilik persona, kedekatan melalui suara dieksplorasi sedemikian rupa melalui mood and feel suara yang lebih diperkaya. Dengan mendengar, audiens diaktifkan untuk menginterpretasi, membuat kesimpulan dan membangun asosiasi seputar karakteristik, rasa dan emosi dengan pemilik suara. Dengan demikian, kekuatan persona menjadi hal yang penting dalam membangun pengalaman suara bagi brand. Artinya sangat mungkin brand diluar brand pesona bisa mengulik Podcast untuk menghadirkan pengalaman suara serupa bagi market dan audiensnya, asalkan mempertimbangkan dengan matang bagaimana persona, mood and feel brand akan dihadirkan.

Sepertinya topik ini sangat layak untuk dibawa ngoceh di Ngoceh Brand. Stay tuned!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.